Diadaptasi dari novel laris dengan judul 9 Summers 10 Autumns, film ini terinspirasi dari kisah nyata perjalanan hidup Iwan Setyawan (Ihsan Traore), yang merupakan anak dari supir angkot di Batu, Jawa Timur dan lalu, berkat kegigihannya, mampu menembus batas mimpi dan sukses menjadi direktur sebuah perusahaan ternama di New York, Amerika Serikat.
Sangat mudah bagi film 9 Summers 10 Autumns untuk menyuplai penontonnya dengan aliran motivasi yang tak ada habisnya, dan kemudian membuat film ini membosankan sekaligus mengesalkan. Belum lagi kemungkinan sesaknya film dengan adegan yang sengaja diramu untuk memeras air mata penonton sehingga cenderung menjijikkan.
Beruntung, Ifa Isfansyah—peraih Piala Citra 2011 untuk Film Terbaik dan Sutradara Terbaik berkat Sang Penari—adalah orang yang ditunjuk sebagai pengarah film. Dan dengan segala upayanya, ia sebisa mungkin menjauhkan film ini dari jebakan formula film motivasi yang klise.
Apalagi dengan kualitas pengambilan gambar sedap dipandang yang proporsional secara perspektif, terutama pada awal film. Untuk urusan ini, Ifa sepatutnya berterima kasih kepada pengarah sinematografi bernama Gandang Warah. Ia bukanlah nama baru di sinema Indonesia, sebelumnya Gandang terlibat dalam film pendek fenomenal produksi Institut Kesenian Jakarta berjudul CINTA dan film panjang 7 Hati, 7 Cinta, 7 Wanita.
Rasa terima kasih juga layak diucapkah oleh Ifa kepada Iwan Setyawan karena telah menulis buku yang nonlinier, bolak balik antara masa kecilnya di Batu dan masa dewasanya di New York. Gaya penceritaan ini lebih atraktif dibanding alur lempeng yang berjalan dari masa kecil Iwan hingga dewasa.
Metode selang seling juga dilancarkan untuk suasana adegan, ada tawa setelah duka, atau pun sebaliknya. Seperti pada adegan pembuka ketika Iwan dirampok di dalam kereta bawah tanah oleh pemuda Amerika Serikat; dan lalu dilanjutkan dengan adegan yang mundur jauh ke belakang saat Ibunda (Dewi Irawan, bermain apik) melahirkan Iwan dan disambut gembira oleh sang Ayah (Alex Komang, juga bermain apik) yang berseru: “Anakku lanang!”
Film 9 Summers 10 Autumns juga berkutat dengan stigma klasik ‘laki-laki cari uang, perempuan di dapur’. Kesan dramatis film ini banyak muncul pada konflik yang berdasar dari budaya yang masih bisa ditemui di sejumlah daerah Indonesia tersebut.
Dari jauh hari, pihak Artura Insanindo dan Angka Fortuna Sinema yang memproduksi film ini sudah menggemborkan bahwa 9 Summers 10 Autumns melibatkan tim konseptor yang terdiri dari berbagai disiplin ilmu, mulai dari desain, pendidikan, sosiologi, statistika, hingga media.
Yang paling terasa adalah dari pendidikan statistika, tak jarang soal-soal rumit naik ke permukaan film lengkap dengan bagaimana cara memecahkannya. Namun departemen yang bertanggung jawab untuk membangun atmosfer suatu era tidak terlalu teliti.
Tentu, ada kemunculan telepon seluler Motorola StarTAC yang besar pada pertengahan dekade 90-an, begitu pula dengan penggunaan mobil dan komputer yang sesuai era. Tetapi yang mengganggu adalah logo baru Starbucks yang muncul di Times Square padahal, sesuai setting waktu pada adegan tersebut, seharusnya logo lama Starbucks-lah yang ditampilkan.
Begitu juga dengan hadirnya poster 2001: A Space Odyssey yang dihadirkan bersandingan dengan poster filmOcean’s Eleven dan musikal Mamma Mia!. Namun untuk ini, melihat jauhnya jarak tahun perilisan film garapan Stanley Kubrick tersebut, 1968, sepertinya ada kesan trivia yang hendak diungkapkan oleh Ifa.
Jika berbicara soal momen terpenting film 9 Summers 10 Autumns, maka keputusan Ifa untuk mencantumkan adegan-adegan di mana Iwan besar berdialog dengan Iwan kecil (Shafil Hamdi Nawara), seperti pada buku, adalah pemenangnya. Adegan tersebut menjadi simbol untuk salah satu pelajaran paling berharga yang pernah diterima Iwan, yaitu bahwa masa lalu merupakan bagian penting yang tak bisa ditinggalkan dari masa depan seseorang.

Posting Komentar